Zero to TPA Cimahi Diuji di Akar Rumput, Keberhasilan Bergantung pada Konsistensi Warga dan Kelurahan

Beriringan media -CIMAHI Upaya Pemerintah Kota Cimahi mempercepat kebijakan Zero to TPA melalui Program ISWMP menunjukkan langkah progresif dalam menjawab krisis persampahan. Namun, di balik kunjungan Tim World Bank ke TPST Sentiong dan Lebaksaat, tantangan terbesar justru berada pada tahap implementasi di tingkat paling bawah: perubahan perilaku masyarakat dan konsistensi pengelolaan di kelurahan.

Ketergantungan lama terhadap TPA Sarimukti telah membentuk pola pikir bahwa sampah selalu “berakhir di tempat pembuangan.” Ketika kuota pembuangan semakin dibatasi, kebijakan Zero to TPA menuntut pergeseran paradigma, dari membuang menjadi mengolah. Di sinilah tantangan sesungguhnya muncul, karena keberhasilan TPST dan TPS 3R sangat bergantung pada kualitas pemilahan sampah sejak dari rumah tangga.

Data bahwa sekitar 60 persen pengelolaan sampah kini ditangani di tingkat kelurahan menunjukkan besarnya beban tanggung jawab yang dialihkan ke wilayah. Tanpa penguatan kapasitas sumber daya manusia, sarana pendukung yang memadai, serta pengawasan berkelanjutan, potensi ketimpangan antarwilayah dalam pengelolaan sampah menjadi sulit dihindari.

Kunjungan World Bank melalui Implementation Support Mission memang penting untuk memastikan kesiapan teknis dan kelembagaan. Namun, evaluasi yang lebih krusial adalah sejauh mana kebijakan seperti Hari Organik dan Hari Anorganik benar-benar dipahami dan dijalankan oleh warga secara disiplin, bukan sekadar menjadi aturan administratif.

Dengan target peningkatan kapasitas TPST hingga 85 ton per hari, Cimahi dihadapkan pada pilihan strategis: menjadikan fasilitas pengolahan sebagai solusi utama, atau membangun kesadaran kolektif agar volume sampah yang masuk ke TPST terus berkurang. Tanpa partisipasi aktif masyarakat, percepatan Zero to TPA berisiko menjadi beban operasional baru, bukan solusi jangka panjang.

Kebijakan persampahan Cimahi kini berada di titik krusial. Keberhasilan program internasional dan dukungan infrastruktur hanya akan bermakna jika diiringi konsistensi pelaksanaan di tingkat warga, RT, RW, dan kelurahan sebagai garda terdepan pengelolaan sampah perkotaan.

Posting Komentar untuk "Zero to TPA Cimahi Diuji di Akar Rumput, Keberhasilan Bergantung pada Konsistensi Warga dan Kelurahan"