Arah Sudah Dikunci, Tantangan Terbesar Ada pada Konsistensi Pelaksanaan

Penguncian arah kebijakan pembangunan lingkungan hidup Kota Cimahi tahun 2027 melalui FGD DLH patut diapresiasi sebagai langkah awal yang sistematis. Namun, persoalan lingkungan tidak berhenti pada perumusan isu strategis, melainkan justru diuji pada sejauh mana konsistensi kebijakan itu dijalankan di lapangan.

Empat fokus strategis yang ditetapkan—mulai dari perubahan iklim hingga pengelolaan sampah—sesungguhnya bukan isu baru bagi Cimahi. Tantangan utamanya adalah memastikan agar agenda tersebut tidak berulang sebagai daftar prioritas tahunan tanpa terobosan nyata yang terasa langsung oleh warga.

Capaian Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) yang melampaui target memang menunjukkan kemajuan secara statistik. Namun, angka tersebut belum sepenuhnya mencerminkan persepsi masyarakat yang masih berhadapan dengan sungai tercemar, ruang terbuka hijau yang terbatas, dan tekanan volume sampah harian yang kian meningkat.

Inovasi seperti Grak Ompimpah dan Tepung Grak Ompimpah menandai keberhasilan Cimahi dalam aspek kreativitas kebijakan. Tantangan berikutnya adalah memperluas skala inovasi agar tidak berhenti sebagai proyek unggulan, melainkan menjadi budaya baru pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga dan kawasan permukiman.

Keterlibatan multipihak dalam FGD juga menyimpan ujian tersendiri. Kolaborasi lintas sektor akan bermakna jika diikuti dengan pembagian peran yang jelas, mekanisme evaluasi terbuka, serta keberanian melakukan koreksi kebijakan ketika tidak berjalan sesuai rencana.

Dengan arah pembangunan yang telah dikunci, DLH Kota Cimahi kini memasuki fase krusial: membuktikan bahwa perencanaan partisipatif mampu diterjemahkan menjadi perubahan lingkungan yang nyata, berkelanjutan, dan dirasakan langsung oleh masyarakat—bukan hanya tercatat dalam dokumen perencanaan.

Posting Komentar untuk "Arah Sudah Dikunci, Tantangan Terbesar Ada pada Konsistensi Pelaksanaan"