Dari RW Padat ke Panggung Dunia: Warga Baros Buktikan Sanitasi Berbasis Komunitas Bisa Berkelanjutan
Beriringan, KOTA CIMAHI — Keberhasilan Kota Cimahi menjadi rujukan internasional dalam pengelolaan sanitasi ternyata berakar dari perubahan nyata di tingkat warga. Di RW 14 Kelurahan Baros, sanitasi berbasis masyarakat tidak hanya menghadirkan infrastruktur, tetapi juga mengubah pola pikir dan perilaku hidup bersih masyarakat perkotaan padat.
Kunjungan delegasi Pemerintah Vietnam dalam agenda South–South Learning Exchange pada 12–15 Januari 2026 menjadi sorotan. Namun di balik agenda internasional tersebut, kisah utama justru datang dari masyarakat RW 14 yang berhasil bertransformasi dari wilayah dengan praktik buang air besar sembarangan (BABS) menjadi kawasan yang hampir sepenuhnya bebas BABS.
Ketua RW 14 Kelurahan Baros, Johny George Laurenz, mengungkapkan bahwa perubahan itu tidak terjadi secara instan. Awalnya, sebagian warga menolak pembangunan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) karena khawatir akan bau dan pencemaran sumur. Kekhawatiran tersebut justru menjadi tantangan awal yang harus dihadapi oleh pengurus RW dan para kader.
“Pendekatan teknis saja tidak cukup. Yang paling efektif adalah pendekatan ke warga, terutama lewat kader-kader perempuan yang sabar menjelaskan manfaat sanitasi bagi kesehatan keluarga,” ujar Johny.
Kini, RW 14 telah memiliki dua unit SPALD-T yang melayani total 155 kepala keluarga. Fasilitas tersebut dikelola secara mandiri oleh Kelompok Pengelola dan Pemelihara (KPP), memastikan sistem sanitasi tetap berjalan dan terawat. Warga pun merasakan langsung manfaatnya, mulai dari lingkungan yang lebih bersih hingga berkurangnya risiko penyakit.
Keberhasilan inilah yang menarik perhatian delegasi Vietnam. Mereka tidak hanya mempelajari teknologi sanitasi, tetapi juga proses sosial yang melibatkan warga sejak tahap perencanaan hingga pengelolaan. Diskusi lapangan menyoroti bagaimana kepercayaan masyarakat dibangun dan bagaimana sanitasi dijadikan bagian dari kesadaran kolektif, bukan sekadar proyek pemerintah.
Wali Kota Cimahi menegaskan bahwa kekuatan utama sanitasi berbasis masyarakat terletak pada kepemilikan warga. “Ketika masyarakat merasa memiliki, sanitasi tidak lagi dipandang sebagai fasilitas asing, tetapi sebagai kebutuhan bersama yang harus dijaga,” ujarnya.
Pendekatan ini dinilai relevan bagi banyak kota padat penduduk, termasuk di Vietnam, yang menghadapi tantangan serupa akibat urbanisasi dan perubahan iklim. Perwakilan UNICEF Indonesia menyebut bahwa pengalaman Cimahi menunjukkan sanitasi berkelanjutan tidak harus mahal, tetapi harus inklusif dan partisipatif.
Bagi warga RW 14, kunjungan delegasi internasional menjadi pengakuan atas upaya kolektif mereka. Namun yang terpenting, perubahan sanitasi telah membawa dampak nyata bagi kualitas hidup sehari-hari.
Dari gang-gang sempit di Baros, pesan itu kini bergema hingga lintas negara: perubahan besar bisa dimulai dari komunitas kecil yang mau bergerak bersama.
Posting Komentar untuk "Dari RW Padat ke Panggung Dunia: Warga Baros Buktikan Sanitasi Berbasis Komunitas Bisa Berkelanjutan"